BANDUNG
Alternatif Jalan-jalan Murah ke Bandung
Waahh! waktu liburan kuliah udah dateng nih, asik dong kali diisi dengan jalan-jalan apa lagi sama temen-temen yang sudah akrab dengan kita. disana kita bisa berfoto-foto, bercanda, tertawa dan berbagi berbagai pengalaman yang pernah kita alami, pasti seru deh. Tapi, yaahhh namanya juga kantong mahasiswa pastinya mau jalan-jalan yang low budget dong biar sesuai dengan kondisi keuangan. Nah, Aku punya solusi destinasi wisata yang murah nih buat kamu yang ada di Jakarta, salah satunya itu kita bisa mengunjungi kota Bandung.
kamu pasti tau dehh, kalo Bandung itu salah satu kota yang terkenal akan destinasi wisatanya bukan? dan banyak sekali destinasi wisata disana dimulai dari yang murah sampaiyang mahal loh. Nah, sekarang aku mau berbagi pengalaman aku nih ke kamu semua perihal perjalanan murah aku ke bandung.
Oke, Aku mulai sekarang yaa!!
Rumahku ada di Kota Jakarta Barat, tepatnya di kelurahan Meruya selatan. Aku memulai perjalanku dengan naik angkot dari rumah sampai stasiun palmerah, pakai kartu jaklinko tentunya biar gratis tanpa bayar hehe. Setelah sampai di Stasiun Palmerah Aku membeli tiket ke arah Stasiun Tanjung Priok dengan tiket seharga Rp. 3.000,-/orang dan aku menjalankannya dengan dua kali transit yang pertama, aku naik KRL dari stasiun Palmerah ke stasiun Tanah Abang, dati stasuin tanah abang aku lanjut naik kereta jurusan Kramat dan turun di Stasiun Kampung Bandan, setelah ituu dari Stasiun Kampung Banda aku lanjut menaiki kereta jurusan Tanjung Priok dan turun di pemberhentian terakhir yaitu stasiun Tanjung Priok, dan selesailah aku menaiki KRL.
Sesampainya Aku disana, aku bertemu dengan teman-temanku yang memang sudah membuat janji terlebih dahulu denganku. Kemudian, Kami melanjutkan perjalanan dengan menaiki kereta lokal, nah kalian tau ngga? kereta lokal ini loh yang bikin perjalanan ku dengan teman-teman jadi murah. kereta lokal yang kami naiki adalah kereta jurusan Tanjung Priok - Purwakarta dengan harga tiket Rp. 6.000,-/orang kami sudah sampai di purwakarta. berhubung kereta yang akan kami naiki berikutnya memiiki jeda yang cukup lama, kami memutuskan untuk mapir di Purwakarta untuk melihat-lihat destinasi yang ada di purwakarta.
Di Purwakarta, kami mengunjungi Taman Air Mancur Sri Baduga yang letaknya tidak terlalu jauh dari stasiun hanya berjarak 500 km jadi kami memutuskan untuk berjalan kaki. Tapi sayang setelah kami sampai disana, kami baru mengetahui bahwa Taman Air Mancur Sri Baduga hanya tayang saat malam hari di akhir pekan. akhirnya kami memilih untuk berfoto-foto di gerbang masuk Taman Air Mancur Sri Baduga. Ohya, FYI Taman Air Mancur Sri Baduga ini merupakan taman air mancur terbesar di Asia Tenggara loh!!
Karena jadwal keberangkatan kereta masih lama, akhirnya salah satu teman kami berinisiatif untuk mengajak kami mengunjungi alun-alun Purwakarta. disana banyak berbagai macam jajanan murah yang dapat kamu cicipi dan rasanya pun tak kalah enak. selain menjadi sasaran kuliner, ternyata alun-alun Purwakarta ini juga banyak dijadikan tempat berkumpul oleh warga Purwakarta.
setelah makan dan beristirahat, kami kembali ke stasiun Purwakarta untuk melanjutkan perjalanan menuju stasiun Bandung dan masih menggunakan kereta lokal seharga Rp. 8.000,-/orang. Saat menaiki kereta lokal jurusan Bandung ini, kami disuguhkan pemandangan yang memanjakan mata dengan hamparan ladang pertanian padi mulai dari yang masih bibit sampai padi-padi yang sudah menguning, bahkan ada juga ladang yang baru saja dipanen dan menyisahkan ladang kering, tak jarang juga kami menyaksikan hamparan sungai dan gunung-gunung sepanjang perjalanan, kereta pun banyak melewati jembatan yang sengaja dibuat untuk jalur kereta yang dibawahnya itu berupa sungai-sungai yang curam.
Sampai dikota Bandung, kami langsung bergegas menuju penginapan. Karna jalan-jalan ini adalah jalan-jalan murah, kami pun menyewa penginapan yang murah. bukan hotel tapi semacam kamar kost yang dilengkapi dengan kamarmandi di dalam kamar, dua buah kasur karna satu kamar kami isi sua orang, handuk, sikat gigi, sabun, lemari, meja dan kursi. penginapan itu kami sewa sebesar Rp.56.000/orang jika dibagi rata. tak kalah indah dengan hotel-hotel lainnya, penginapan ini juga menyuguhkan pemandangan kota Bandung dari atas yang begitu indah dimalam hari, yang menghasilkan sensasi seperi berada diatas bukit yang penuh dengan kunang-kunang hehe.
Sesampainya di penginapan, kami bersih-bersih dan kemudian kami mengunjungi Alun-alun kota Bandung yang begitu menawan.
Di alun-alun kota Bandung, selain kami menemukan Masjid Raya Bandung yang merupakan salah satu ikon kota Bandung, di alun-alun juga banyak sekali spot foto yang dapat dimanfaatkan untuk berfoto-foto loh.
Dan masih banyak lagi spot foto yang ada di alun-alun kota Bandung ini. Sepulangnya dari alun-alun kota Bandung, kami mencari makan malam di sepanjang pinggir jalan yang masih di sekitar penginapan, tidak terlalu mahal hanya sekitar Rp. 17.000,-/porsinya. karna lelah setelah seharian perjalanan, kami akhirnya kembali kepenginapan untuk beristirahat.
Keesokan harinya pagi-pagi kami cari sarapan di sekitar penginapan. Banyak sekali pilihan makanan yang ada di sekitar penginapan seperti bubur, serabi, ketupat, pecel ayam, bebek goreng, ayam tepung, rumah makan padang, dan masih banyak lagi.
Setelah sarapan dan bersiap-siap, kami check out dari penginapan dan kami mengunjungi destinasi utama kami yaitu Taman Huran Raya Ir.H.Djuanda dengan tiket masuk sebesar Rp. 15.000,-/orang. Banyak sekali yang dapat kami kunjungi di THR Djuanda ini. Kami mesuk ke THR Djuanda melalu pintu masuk Pos 1, disana ada Monumen IR.H.Djuanda yang berjarak 500 km dari pos 1. Kemudian dengan jarak 500 m dari pos 1, dapat didapati Goa Jepang namun goa jepang ini bersebrangan dengan Monumen sehingga kami memilih untuk tidak mengunjungi monumen dan langsung bergegas ke Goa Jepang.
Di Goa Jepang, terdapat pemandu-pemandu serta orang-orang yang sengaja menyewakan senter untuk wisatawan menelusuri Goa Jepang, satu senter seharga Rp. 5.000,- dan ada juga penyewaan guide yang sudah dapat disewa seharga Rp. 30.000,-/guide bersama-sama dengan guide, kami sudah bisa menelusuri Goa Jepang dengan mengenal struktur bangunan dan sejarah terbentuknya Goa Jepang itu. selain menjadi seorang guide, beliau juga bisa dimintai tolong untuk mengambil gambar para wisatawan loh.
Dari Goa Jepang, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, yaitu Goa Belanda yang berjarak 700 m dari Goa Jepang. Goa Belanda ini lebih rapih dan terbuka di bandingkan Goa Jepang yang masih real seperti bentuk aslinya.
FYI :
- Goa belanda ini merrupakan pintasan jalan ke balik bukit.
- Goa Belanda ataupun Goa Jepang terbuat dari galian yang di bentuk dengan bebatuan tahan gempa.
Dari Goa Belanda, kami melanjutkan perjalanan ke Penangkaran Rusa yang berjarak 2 km dari Goa Belanda. disana banyak sekali rusa-rusa yang memang sengaja di pelihara oleh THR Djuanda, diperjalanan menuju penangkaran Rusa ini, kami menemukan jembatan gantung yang dibawahnya terdapat sebuah curug yaitu curug Gantung, tapi curugnya tidak untuk di buat berendam ya karna curam sekali kebawaknya. Ohya, untuk melintasi jembatan ini hanya di perbolehkan maksimal lima orang untuk melintasi jembatan, ini semua demi keselamatan. Jembatan ini juga bagus loh untuk bersua.
Setelah melintasi jembatan, kami akan menemukan jalan yang terbilang kecil yang biasa dibilang jalan setapak dengan tumbuhan ilalang di kanan dan kiri jalan serta pemandangan bukit yang indah.
Sesampai di penangkaran rusa, kami beristirahat sambil menikmati pemandangan yang indah serta menyaksikan para Rusa sedang kiberi makan oleh para pawangnya. Dari penangkaran rusa, kami lanjut ke Curug Kidang yang berjarak 1 km dari penangkaran Rusa.
Curug Kidang ini tidak terlalu deras, tapi tetap saja para wisatawan tidak bisa turun ke curug karna jaraknya curam sehingga tidak memungkinkan untuk turun. Mulai dari curug Kidang ini sudah jarang sekali terlihat orang-orang berlalu-lalang, sehingg wisatawan akan tersasa seperti benar-benar ada di hutan.
1 km dari Curug Kidang, kami menemukan Batu batik yang sejujurnya kami pun tidak mengerti dari mana sisi batiknya hehe, di sebelah batu batik juga ada curug loh namanya curug lalay. Curug lalay ini memang memungkinkan untuk kami menyentuh airnya, tapi karna kondisi yang sangat sepi dan tidak ada orang lain selain kami berempat kami memilih untuk melanjutkan perjalanan saja.
Dari curug Kidang-Batu Batik kami menuju Curug Ciomas yang berjarak 2 km dari curug Kidang-Batu Batik. ditengah perjalanan kami menemuka sekelompok orang yang menaiki bukut yang ada di sebelah jalan, saat ditanya ternyata mereka ingin mengunjungi tebing keraton, awalnya kami ada niat untuk ikut pergi kesana tapi karna kondisi fisik yang sudah cukup lelah dan waktu serta jarak yang masih lebih jauh lagi daripada Curug Ciomas, akhirnya kami tidak jadi ikut ke Tebing Keraton dan lanjut ke arah Curug Ciomas.
Sesampainya Kami di curug Ciomas, kami merasa puas karna akhirnya kami menemukan curug yang benar-benar indah dan terjun lepas. delain air terjun maju sedikit ada taman untuk tempat berkumpul keluarga dan masjid serta curug yang ukurannya lebih kecil dari curug Ciomas yang dapat digunakan untuk berendam.
Karna waktu sudah sore, kami tidak lagi mampir dan berlama-lama disini dan kami langsung keluar dari kawasan curug ciomas.
Sepanjang perjalanan kami ini, banyak sekali warung-warung yang sengaja menjajahkan barang dagangannya seperti mi instan, gorengan atau buah untuk para wisatawan bersinggah istirahat sekaligus makan. harganya pun murah sesuai dengan harga-harga pada umumnya, tidak dinaikkan bahkan lebih murah.
dalam penelusuran THR Djuanda juga wisatawan tidak akan merasa bosan karna pemandangan yang disuguhkan begitu indah dan menarik, apalagi buat kami yang yang terbiasa tinggal di daerah perkotaan yang sudah jarang sekali ditemukan taman-taman, jangankan taman pohon besar yang rindang pun jarang sekali ada di daerah perkotaan bukan?
Setelah dari Taman Hutan Raya IR.H.Djuanda, kami mampir ke cihampelas atau yang biasa disebut ciwalk untuk membeli oleh-oleh khas bandung. Ciwalk ini direkomendasikan banget sih buak kalian yang mau cari oleh-oleh khas Bandung, karna harganya lebih murah.
Setelah puas membeli oleh-oleh, kami menuju Stasiun Kiaracondong untuk segera pulang dengan tarif Rp. 63.000,-/orang. Kami naik kereta yang langsung Kiaracondong-Pasar Senen karna fisik yang sudah lelah dan tidak memungkinkan untuk naik kereta lokal serta waktu yang tidak mumpuni karna ada dari kita yang bekerja di esok harinya.
Setelah kami sampai di Stasiun Pasar Senen, kami pulang kerumah masing-masing menggunakan layanan TransJakarta dengan tarif Rp. 2.000,-/ orang karna kita naiknya masih pagi, tapi kalau sudah diatas jam 08.00 WIB tarifnya naik menjadi Rp. 3.500,-/orang.
Terimakasih sudah membaca tulisan Aku, semoga bermanfaat dan berkesan :)
















Komentar
Posting Komentar